KANAL 4News

JIP - Beberapa waktu lalu, tim redaksi mendapat kesempatan langka, berpartisipasi dalam event Borneo Safari 2014, bersama rombongan EF4WD. Rupanya, kami pun mendapat beberapa pelajaran berharga dalam perjalanan menuju lokasi event di Kota Kinabalu, Malaysia timur. Kami melewati beberapa bagian Kalimantan, yang juga jadi rute favorit penggemar petualangan off-road.

Hampir setiap penyuka perjalanan adventure di Indonesia, pasti berkeinginan untuk mencoba menjelajahi pelosok tanah Borneo, yang lebih dikenal sebagai Kalimantan itu. Itu tak lepas dari banyaknya jalur eks logging, yang merupakan salah satu jalur menarik, mengingat banyak obstacle yang ditemui, mulai dari yang sederhana hingga yang ekstrem.

Seperti yang kami alami, saat akan mengikuti Borneo Safari 2014. Perjalanan Balikpapan-Samarinda relatif mirip jalan pada umumnya. Banyak rest area, SPBU, dan penginapan. Akan tetapi, kondisi jalan dari Samarinda-Bontang-Sangatta-Muara Wahau-Tanjung Redeb-Tanjung Selor-Malinau-Simanggaris-Sei Ular, sudah sangat berbeda.

Banyak hal yang harus diantisipasi, dari makanan, BBM, hingga medis. Berlanjut perjalanan dari Tanjung Redeb menuju Malinau, kondisinya semakin minimal. Perjalanan dari Malinau ke Sei Ular, selain minim juga ditemui tiga pos perbatasan, pos pertama Pos Salang, pos kedua Pos GABMA (Pos Gabungan TNI dan Tentara DiRaja Malaysia) dan Pos Sei Ular. Bagi yang ingin melintas perbatasan Indonesia - Sabah, selain berkoordinasi dengan aparat setempat, kita juga wajib lapor Imigrasi di Nunukan.

Inilah 10 hal yang dapat kita cermati bila ingin melewati rute tersebut.

 

1. Out of the track

Bagi para pengguna GPS, disarankan menggunakan peta versi diatas 2.47 sampai dengan yang terbaru. Bila menggunakan versi sebelum 2.47, jalur dari Tanjung Redeb Malinau tak terdeteksi. Selain itu, informasi seperti tempat makan, perkampungan, dan SPBU, juga tidak terdeteksi. Jika GPS masih menggunakan versi lama, jalur alternatif pun tidak terdeteksi.

2. Minimnya rambu-rambu jalan

Jalan dari Tanjung Redeb-Malinau-Sei Ular, tak hanya sempit, tapi juga minim rambu-rambu dan masih didominasi jalan tanah merah. Jalur yang kami lewati dulunya merupakan jalur eks logging yang kini menjadi jalur utama.

3. Jarang SPBU

Sebagai informasi, untuk pembelian BBM di Balikpapan diberlakukan sistem kuota, dimana setiap pengisian kendaraan dibatasi maksimal Rp 150.000 untuk premium dan solar, namun tak berlaku untuk pengisian BBM jenis Pertamax. Memasuki daerah Bontang, jumlah SPBU semakin langka, justru pedagang bensin eceran banyak kami jumpai di setiap pemukiman. Itu pun jarak antar pemukiman sekitar 50-100 km, sangat disarankan membawa bensin cadangan.

4. Minim tambal ban dan bengkel

Permukaan jalan gravel, aspal rusak, tanah merah sangat memungkinkan kendaraan rawan mengalami kerusakan, terutama bagian suspensi dan ban bocor. Diperparah lagi dengan langkanya jasa tambal ban dan bengkel.

5. Koordinasi TNI dengan imigrasi

Bagi pelintas dari Malinau menuju Simanggaris, disarankan untuk berkoordinasi dengan pihak TNI, karena otoritas wilayah tersebut dipegang oleh TNI. Sedangkan bagi pelintas batas negara, selain berkoordinasi dengan TNI, juga berkoordinasi dengan pihak Imigrasi yang berada di Nunukan. Secara resmi, jalur ini merupakan salah satu jalur laut penyeberangan antar negara.

6. Minimnya hotel/penginapan

Selepas Kota Tanjung Redeb menuju Malinau, tidak banyak dijumpai hotel atau penginapan di Kota Tanjung Selor, begitu juga di Kota Malinau. Keadaan semakin memburuk saat memasuki wilayah Simanggaris, sama sekali tidak ada penginapan.

7. Minim perkampungan dari Tanjung Selor-Sei Ular

Karena wilayah ini merupakan daerah pemekaran, wajar jika pembangunnya belum merata. Sehingga penyebaran penduduknya pun masih terfokus pada daerah-daerah yang sudah berkembang/ramai.

8. Balai pengobatan

Balai pengobatan atau rumah sakit rujukan hanya ada di kota kabupaten Tanjung Redeb, Tanjung Selor dan Malinau. Sedangkan untuk tingkat kecamatan, hampir tidak ada balai pengobatan yang aktif.

9. Masyarakat Sei Ular, Nunukan sampai pesisir Tawau

Sepanjang perjalanan Sei Ular, Nunukan, sampai pesisir Tawau, hampir seluruhnya tidak ada yang didominasi penduduk asli, semua membaur dengan masyarakat pendatang, terutama dari kepulauan Sulawesi. Bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah. Bahasa ibu hanya dipakai di lingkungan keluarga.

10. Transportasi dari Sei Ular-Nunukan

Sei Ular merupakan daratan terakhir dari Kalimantan Utara, yang juga salah satu pelabuhan untuk menjangkau wilayah Nunukan. Sebelum sampai di pulau Nunukan, kami melewati satu pos TNI di Muara Sei Ular, dimana kami wajib lapor kedatangan dan kepulangan dari Imigrasi Nunukan. Ada dua pilihan untuk menjangkau pulau Nunukan, yakni dengan speed boat dan long boat, yang masing-masing punya rate berbeda.


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
REVIEW PRODUK | WINCH WINCHESTER
REVIEW PRODUK | WINCH WINCHESTER
JIP TWITTER FEED
Review Produk