KANAL 4Event

Penantian Panjang Menggerus Jalur Hardcore
Event
Borneo Safari 2016
Penulis : Bondho Teguh | Foto : Bondho Teguh

JIP - Istirahat dua jam setelah melakukan perjalanan panjang dari Pontianak – Kalimantan Barat – Indonesia menuju Kota Kinabalu – Sabah – Malaysia, tidaklah  cukup. Tapi kami tetap bersemangat untuk hadir pada pelepasan kendaraan atau flag-off event offroad tahunan terbesar di Sabah, Malaysia, yaitu Borneo Safari 2016 pada 30 Oktober – 6 November 2016.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_34_11__MG_4726.jpg

Kini event ini telah masuk tahun ke-26. Kegiatan Borneo Safari 2016 diikuti kurang lebih sekitar 300-an kendaraan. Berbagai merek bergardan ganda yang berasal dari beberapa negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia turut meramaikan event off-road tertua yang pernah ada ini.

Peserta Borneo Safari 2016 dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Kompetitor dan kelompok Tag On. Kelompok Kompetitor adalah kelompok yang dapat mengikuti SS atau Special Stage, sementara kelompok Tag On hanya dapat mengikuti kegiatan beradventure atau country road. Special Stage dilakukan di sekitar campsite, dimana para kelompok tag on yang telah tiba di campsite, bisa menikmati suguhan kompetisi.

Pelepasan peserta di depan kantor Departemen Pariwisata Malaysia yang berada di Gaya Street Kota Kinabalu. Dilepas oleh para pejabat negara, di antaranya adalah Chief Minister Of Sabah, Minister of Youth and Sports, Minister of Tourism, Culture and Environment, dan para pejabat lainnya.

Peserta langsung menuju Kampung Tibabar, sebagai tujuan perjalanan pertama tepat pada pukul 08.30 waktu Sabah, Malaysia. Hingar-bingar kendaraan bergardan ganda menghiasi sebagian Kota Kinabalu pagi itu, beriringan dengan tertib bersama grup masing-masing.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_34_53__MG_5298.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_34_53__MG_5312.jpg

Saya bersama Pakde Mamang (Herman )  salah satu peserta dari Indonesia, kali ini bergabung bersama di grup B, yang sebagian besar peserta dari Brunei Darussalam. Borneo Safari tahun ini ada sekitar 12 kendaraan peserta dari Indonesia, yang lainnya peserta dari Kalimantan.

Kami pun menuju Kampung Tibabar, sayangnya dalam perjalanan kendaraan kami Fortuner tahun 2009, mengalami masalah. Kehilangan tenaga untuk melintasi tanjakan-tanjakan panjang. Maklum, jalan raya yang kami lewati adalah jalanan yang mengelilingi Gunung Kinabalu, dan kendaraan pun belum istirahat maksimal setelah melakukan perjalanan panjang dari Pontianak - Indonesia.

Di sebuah bengkel, di pinggir jalan kami diarahkan oleh salah satu panitia untuk perbaikan. Dicoba untuk diganti busi, tak menunjukkan perbaikan hingga akhirnya tangki bahan bakar diturunkan. Electric fuel pump bermasalah, sehingga harus diganti baru. Sekitar 3 jam kendaraan kami selesai dari perbaikan dan langsung melanjutkan menuju Kampung Tibabar.

Malam di camping ground Kampung Tibabar, tak terasa karena kami semua lelah menempuh perjalanan jauh. Mesin meraung pun kami tak dengar, karena di sekitar lokasi camping dilakukan kegiatan SS atau special stage, untuk kendaraan peserta kompetitor. Sementara kami memanfaatkan kesempatan ini untuk memulihkan stamina.

Derasnya air sungai mengusik telinga, saat hembusan udara pagi yang sejuk meniup campsite pertama. Tak kami sia-siakan segera mencicipi jernihnya air dan merendam badan. Benturan derasnya air yang menghantam seakan pijatan refleksi pada badan kami yang lelah. Berendam di sungai jernih sambil menikmati pemandangan pagi, adalah sesuatu yang istimewa, kesempatan yang tak mudah ditemui. Nilainya terasa pantas saat menempuh perjalanan ini.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_34_11__MG_4966.jpg

Tertahan Lima Hari

Jam 13.00 perjalanan selanjutnya menuju Kampung Garung, target tujuan untuk campsite selanjutnya. Jalan perkampungan adalah santapan menuju campsite. Di tengah perjalanan diinformasikan segera mencari tempat bermalam lain, karena jalur menuju campsite sudah mematahkan as roda salah satu peserta. Di Kampung Nowanon akhirnya peserta menginap.

Tepat jam 10.00 pagi,  kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kampung Garung. Jalan bekas logging menanjak terjal dan turun tajam, memberikan gairah tersendiri. Hanya menempuh satu jam, peserta sudah tiba di Kampung Garung, membuka fly sheet lebar berkumpul menjadi satu. Merayakan malam ke tiga sebelum menuju gerbang jalur hardcore Borneo Safari 2016.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_36_46__MG_5530.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_35_49__MG_5480.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_35_49__MG_5460.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_37_27__MG_5596.jpg

Kamis, 3 November 2016. Adalah hari ke empat kami mengikuti kegiatan Borneo Safari 2016. Kami masih menunggu di sebuah lapangan di Kampung Garung, menunggu instruksi ketua Grup B untuk masuk jalur hardcore di depan. Sudah dua hari kami menginap di tempat ini. Sebelumnya kami juga hanya menunggu di Kampung Nowanon, sebelum kami harus lanjut menuju campsite Kampung Garung. Kami terpaksa mencari tempat luas untuk menginap, karena grup kami terdiri dari 23 kendaraan.

Informasi dari ketua Grup B bahwa pagi ini kami akan masuk ke dalam jalur hardcore pukul 07.30. Nyatanya, kami baru bergerak pukul 10.00, dan bersantai kembali sambil menunggu arahan selanjutnya. Memasak dan tiduran mengisi waktu lowong, sambil menunggu jadwal bersama untuk masuk ke jalur hardcore.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_37_27__MG_5662.jpg

Sementara masih banyak kendaraan kawan-kawan peserta Borneo Safari 2016 yang sedang antri di pintu gerbang. Jalurnya masih ditutup oleh panitia karena team yang ada di dalam masih mengalami kesulitan. Terjebak obstacle berat, termasuk kawan kami dari Kalimantan Off-road Team. Lagu “Bangun Tidur” Mbah Surip pun acap kali menghiasi suara radio komunikasi grup  kami.

Menunggu hingga hari kelima tiba, arahan saudara Kaleet, sang ketua Grup B yang memimpin kami, dikabarkan bahwa jalur hardcore di depan masih belum bisa bergerak. Sehingga kami coba mengambil inisiatif bergerak menuju gerbang jalur hardcore.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_38_22__MG_5729.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_38_22__MG_5824.jpg

Sementara Grup B dari team Brunei Darussalam memilih jalan lain ke arah campsite ketiga. “Sebenarnya kami datang kesini bukan untuk bermain off-road semata, kedatangan kami hanya untuk mengatasi rasa rindu kepada para kawan-kawan semua, ungkap Pakde Mamang saat sedang bersendau gurau di depan gerbang jalur harcore.

Akhirnya kami pun bergabung dengan Grup E yang dikomandani oleh Hiew Min Yihun, offroader sarat pengalaman dari Negeri Jiran, dan kami adalah satu-satunya peserta dari Jakarta – Indonesia di Grup E.

Penantian tak kunjung tiba, kami dari team GT Radial KOMEX Indonesia akhirnya menuju depan pintu gerbang jalur hardcore bersama Grup E, sementara kawan-kawan dari Brunei Darussalam mengambil jalan lain untuk menuju camp selanjutnya.

Penantian Terbalaskan

Masih menanti…, dari informasi yang kami dapat, masih banyak kendaraan peserta terjebak dalam trek. Sehingga kami harus bertahan di depan pintu gerbang, entah sampai kapan, yang jelas kami tetap bertahan dengan rencana awal saat masih di Jakarta. Yaitu mencicipi trek istimewa yang ada di Borneo Safari 2016, sambil bersilaturahmi bersama kawan-kawan penggila lumpur dari berbagai Negara.

Jam 07.30 kami sudah siap di depan gerbang jalur hardcore Borneo Safari 2016. Atas arahan ketua Grup E, kamipun memulai masuk ke dalam jalur. Tanah terlihat becek karena tadi malam sedikit disiram hujan. Handicap pertama aliran air yang telah menjadi kubangan sebesar mobil.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_42_01__MG_6012.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_39_25__MG_5875.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_39_25__MG_5880.jpg

Satu per satu kendaraan peserta masuk dan melintasinya, beberapa kendaraan berbadan panjang harus menggunakan winch. Keluar dari handicap pertama langsung disuguhi tanjakan terjal sejauh 20 meter. Mesin menderu kencang mencoba melibas tanjakan, namun semangat pengemudi hanyalah keinginan. Sementara kendaraan terjerembab di jalur yang menjadi kubangan akibat digerus ban-ban ukuran 37”.

Lanjut menuju obstacle selanjutnya adalah turunan tajam. Kendaraan peserta bantu-membantu dengan winch depan, dikaitkan pada bumper belakang kendaraan yang akan turun. Seperti roller coaster, kalau bumper belakang kendaraan tidak dikaitkan oleh winch kendaraan di belakangnya, pasti meluncur kencang karena rem tak mampu menahan, dan bongkahan kayu besar siap menyantap kendaraan yang lengah.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_36_46__MG_5549_JIRAM%20GIMA.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_36_46__MG_5567.jpg

Lepas dari turunan tajam roller coaster, selanjutnya adalah jalur landai dalam hutan rimbun. Di sini kendaraan dapat dipacu sedikit kencang, guna mengejar waktu yang sudah banyak tertinggal. Belum lama bergerak kami pun tertahan kembali, karena ada beberapa kendaraan yang membuka tenda di tengah jalan.

 

Niat kami menuju sungai pun tertahan dan harus menunggu peserta yang di depan melanjutkan perjalanannya. Kopi hangat adalah hiburannya, sambil menunggu kendaraan di depan bergerak. 

Sungai pun sudah tak jernih lagi. Karena ada beberapa peserta yang memarkirkan di tengahnya, dan memanfaatkan untuk mencuci kendaraannya. Maklum sungai yang kami lewati sangat dangkal.

Obstacle selanjutnya adalah jembatan darurat yang sengaja dibuat peserta sebelum kami. Sayangnya banyak pohon masih muda dan produktif, ditebang untuk digunakan menjadi jembatan. Selepas jembatan kami melanjutkan perjalanan, tak lama puluhan kendaraan peserta berbaris menunggu waktu bergerak. Menanti kepastian ada apa pada peserta di depan.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_36_46__MG_5582.jpg

Menunggu sekitar satu jam, kami lanjut jalan. Seperti biasa, kami pun mengantri di barisan kendaraan peserta, menunggu "jatah" menikmati obstacle cerukan dalam. Hujan turun lumayan lebat, dan sedikit mengganggu pandangan, perlahan kami meneruskan perjalanan. Semeter demi semeter, bukan melibas obstacle, melainkan mengantri di belakang kendaraan grup kami.

Hujan mulai reda saat gelap hadir. Suara serangga hutan mulai terdengar memberikan irama khasnya. Tetesan air jatuh dari daun-daun tertiup angin yang sejuknya mengagetkan kulit saat tetesannya menyentuh. Masih menunggu antrian, rupanya kendaraan di depan bermasalah pada oil cooler dan sedang perbaikan. Ya, melakukan perbaikan tepat di tengah jalur sehingga mengganggu peserta lainnya untuk melintas.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_38_22__MG_5844.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_38_22__MG_5849.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_39_25__MG_5863.jpg

Gelap telah menyelimuti hutan jalur yang kami lewati, lampu-lampu kendaraan sudah dinyalakan, bagai kunang-kunang bertebaran menghiasi malam. Obstacle semakin berat, kala tanah sudah menjadi bubur lumpur, jalan bekas tapak ban kini sudah menjadi kubangan lumpur, sebuah obstacle yang membuat kendaraan kami tak dapat menapakkan keempat rodanya.

Ada yang menarik di grup kami, salah satu peserta yang menggunakan Land Rover Defender Pick Up adalah wanita sebagai Co-Driver, yang berjibaku membantu driver meloloskan kendaraannya dari halangan demi halangan, tanpa takut dengan medan yang lumayan sulit. Semangatnya memberikan arahan pada driver sehingga dapat terhindar dari masalah-masalah yang mengintai.

Malam, perjalanan tetap kami lanjutkan. Obstacle tikungan tajam dan cerukan V menjadi pembuka. Suasana hutan gelap telah jadi terang benderang, karena lampu spotlight tiap kendaraan bertebaran menerangi.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_39_25__MG_5861.jpg

Tak tak tak... bunyi pada bagian gardan kendaraan kami saat akan melibas tanjakan. Dicoba kembali melibas, namun roda tak dapat berputar. Sepertinya gigi pada gardan sudah tak saling mengait. Kendaraan pun dipinggirkan dan terpaksa ditinggalkan. Kami lanjut menumpang rombongan peserta Grup E, guna melanjutkan perjalanan menuju campsite terakhir.

Semakin malam, kabut semakin menghalangi perjalanan, tak terdengar suara hewan malam di hutan yang lebat ini. Cahaya lampu kendaraanlah yang menerangi malam. Sementara semua peserta berjibaku pada jalur yang menghalang di depan.

Satu kendaraan mampu menembus satu obstacle cerukan, yang telah jadi tanjakan dan berbelok tajam. Obstacle ini banyak memakan waktu pada tiap kendaraan untuk dapat keluar. Karena banyaknya kendaraan peserta yang mengantri di depan, untuk dapat keluar dari trek tadi, kami pun diarahkan oleh ketua regu untuk bermalam.

Tepat pukul 04.00, tanpa alarm, apalagi kokok ayam jantan. Kami diarahkan segera bergerak, melewati jalur hardcore yang tadi malam menjadi "pasar" bagi para peserta yang melintasinya. Hingga pukul 11.00, grup kami pun lolos… Obstacle tersebut memakan korban beberapa tali PTO putus, dan satu unit PTO orisinal Land Cruiser II milik Jiram Gima peserta asal Kuching jebol, saat hujan datang mengguyur tiada henti, hingga cerukan V sudah penuh dengan air.

Ya, dari hitungan kilometer yang kami catat, jarak jalur hardcore sekitar 8 kilometer, sementara dari hitungan panitia BS 26 sekitar 40 kilometer. Untuk urusan jalur hardcore bukan lagi masalah panjang atau pendeknya jalur, melainkan bagaimana kita dapat keluar dari jebakan-jebakan yang membuat patah semangat.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_45_37_DSCN6249_1133.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_45_37_DSCN6246_1130.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_44_36__MG_6213.jpg

Atas arahan ketua grup dan kerjasama para peserta, perjuangan keluar dari jalur hardcore pun dapat diatasi. Sekitar pukul 16.00 pada hari ke delapan, grup kami dapat mencapai gerbang keluar. Sementara kendaraan kami masih bercokok di dalam rimba belantara, diselimuti kabut tebal dan menunggu penggantian spare part. Pun akhirnya dapat keluar esok harinya, setelah perayaan penutupan Borneo Safari 2016 selesai di Kota Kinabalu.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_44_36_DSCN6205_1089.jpg

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_44_36_DSCN6221_1105_GRUP_E.jpg

Jungle Women

Mungkin banyak orang tak akan menyangka, wanita berumur 30 tahun ini adalah ‘penggila’ kendaraan 4x4 Inggris.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_42_01__MG_6019.jpg

Awalnya saya hanya melihat bahwa wanita ini hanya peserta biasa yang menggunakan Land Rover 110 Pick Up, pada event akbar Borneo Safari 2016 di Sabah, Malaysia.

Setelah berada dalam satu grup selama beberapa hari, saya mulai melihat ‘sesuatu’ yang sangat luar biasa. Memandu Land Rover miliknya yang diberi nama ‘Cabby’ dikemudikan oleh Boy Halim dapat melintasi rintangan sulit dengan mudah.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_42_01__MG_6022.jpg

Lari ke depan, menarik sling winch, memasang hook winch pada tree trunk, loncat, berteriak memberi aba-aba agar selalu sigap melibas hambatan yang menghalang.

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_42_01__MG_6036.jpg

Perawakan yang mungil mempermudah wanita ini bergerak lincah tanpa rasa lelah. Itulah perkenalan mata saya pertama kali saat kesan yang luar biasa. Penasaran semakin terbayar setelah semakin banyak mengetahui pribadinya, disaat ada kesempatan disela-sela waktu menunggu giliran melewati obstacle berat.

Borneo Safari 2016 merupakan kali ketiga bagi wanita ini, dimana tahun sebelumnya adalah 2013 dan 2015. Dan yang paling istimewa adalah ketika ia mendapatkan predikat "Jungle Woman" pada tahun 2013.

Wanita ini memang maniak ‘panci’ Inggris. Ia pun sempat menunjukkan koleksinya lewat foto di handphone-nya. Di garasi rumahnya yang berada di Tutong, Brunei Darussalam, terdapat 5 unit Land Rovers. Satu Defender 110, satu Disco-1 5 pintu, satu Disco-1 3 pintu dan dua Range Rover Classic.  

http://jip.grid.id/gallery/jip/gallery/large/2017_03_15_03_43_40__MG_6058.jpg

Atiqah Andullah, adalah nama wanita itu. Itupun saya dapat di akun Facebook, setelah ia mengundang saya untuk berteman dengannya. Dan disitulah kami mulai berbagi foto-foto tentang dunia 4x4 khususnya dunia ‘perpancian’ Inggris.


Bengkel WILLYAMS RACING 4x4

Spesialis : Parts & ACCESSORIES

Jl. Laswi No. 87A Bandung. T: (022) 7330788

Bengkel Volcano Motor Sport

Spesialis :

Jl. Mohammad Toha 276 Bandung T: (022) 5205658

Bengkel Welirank 4x4

Spesialis :

Jl. Komando Hayam Wuruk 181 Petak Pacet Mojokerto, Jawa Timur
JIP [TV]
Video King Of The Hammers clip by JIP
JIP IMAGE
 Restorasi Custom | Daihatsu Delta DV26 1977
Restorasi Custom | Daihatsu Delta DV26 1977
JIP TWITTER FEED
Review Produk